Senin, Februari 21

SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU


Sudah lama, apa dan bagaimana ilmu ini tabir misterinya ingin dibuktikan orang didepan khalayak. Raden Ngabehi Ronggowarsito (1802-1873) yang terkenal itu didalam buku baswalingga ingin mengungkapkan misteri yang terdapat dalam ilmu ini. Puluhan buku sudah ditulis mengenai sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu, seperti karya perngarang Dr. Seno Sasroamidjojo (renungan tentang pertunjukan wayang kulit, 1964). Pak Wirja, imam supardi (sastra jendra hyuningrat’1960) ki RS Yudhi Parojoewana, Ki donosampurna dan lain lain.
Biarpun sudah dituliskan dalam suatu uraian yang panjang lebar malah kadang2 merupakan satu judul buku tersendiri, tapi menurut RM Dasarudin Sumodiningrat, apa yang telah dikemukakan oleh penulis2 tersebut hanyalah merupakan kulit2 dari sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu, sering terjadi kesalahan penulisan karena bertolak belakang dari dugaann-dugaan. Sebab ilmu jawa kuno tersebut, sebenarnya tidak pernah keluar dari kraton.
Apakah perbendaharaan budaya kuno ini dapat disebut sebagai ilmu yang realistis, dan akan terus hidup dijaman modern. Akan ditentukan oleh sendi2 pengejawantahan amalnya dalam ilmu bela diri dan ilmu pengobatan. Sebenarnya antara ilmu beladiri dan ilmu pengobatan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Ilmu beladiri dimulai dari pengertian bahwa manusia hidup diberi tanda2; ia bernafas, darahnya beredar, mempunyai suhu dan gerak (getaran). Dalam bernafas ada 2 macam cara, yaitu menghisap dan mengeluarkan. Kedua cara bernafas ini sebenarnya adalah suatu proses terjadinya jasmani manusia. Sperma yang membuahi telur, sehingga terbentuk menjadi satu bayi yang utuh diproses dalam kandungan kurang lebih 9bulan. Dalam kandungan sibayi bernafas, makan dan berkembang lewat puser (ari-ari). Sesudah ia mengalami saat kelahiran dimana bayi akan berdiri sendiri, terjadilah pemotongan tali pusat. Disitu bayi akan mulai bernafas pertama kalinya. Kalau diperhaikan secara seksama dan teliti, maka kita akan tau bahwa manusia bernafas pertama kali itu adalah dengan mengeluarkan nafas lebih dahulu dari pada menghisap, dengan ditandai dengan tangisnya sibayi (adalah dalam rangka mengeluarkan hawa dari rongga paru2).
Jadi kalau bayi lahir tidak menangis, berarti belum bernafas, maka sang dukun atau dukun membikin sibayi sejenis pukulan “shocking”, atau dalam peradaban kuno “ditepuk” atau “dicambuk dengan belut” supaya menangis. Kalau manusia mati, sama dengan proses lahir dimana penyerahan jiwa pada tuhan kelihatan ikhlasnya dan ditandai dengan mengeluarkan nafas yang terakhir. Ini matinya dikatakan sempurna; kalau seseorang mati dengan mengisap hawa, arwahnya akan gentayangan.
Sehingga keikhlasan seseorang dalam pemberian manusia pada manusia lain, baik berupa barang apapun, petunjuk kuno mengatakan jikalau sipemberi menyerajkan barang tersebut bersamaan dengan hembusan nafas; itu berarti dengan dengan suka rela; tapi jika pemberian itu dilakukan dalam proses rongga dada menghisap hawa, akan kelihatan dalam ekspresi wajah ketidakrelaan itu; atau sering kejadian berda yang diberikan jatuh.
Dua bayang2 dari tubuh manusia, yang putih dan yang hitam. Yang satu berupa sinar puih dari mikrokosmos adalah merupakan sinar hidup yang konduktornya adalah manusia. Kalai ini dikonsentrasikan; 1. Pemikiran menuju kemampuan yang keras (tekad yang bulat), daya cipta yang diwujudkan; 2. Perasaan yang diyakinkan serta ; 3. Badan jasmani disamadikan (tidak bergerak, tenang, mata tidak bergoyang, nafas seolah2 tidak berasa antara menghisap dan mengeluarkan)- maka timbulah suatu kekuatan “supranatural” yang seolah2 irrasionil. Timbulnya dari sinar kemauan yang hebat dan semangat yang menyala-nyala. Ini dinamakan menggunakan kekuatan ilmu putih (white magic)
Bagaimana caranya membangkitkan kekuatan supranatural yang berada dipikiran, perasaan dan badan jasmani itu, punya turan sendiri pula. Kesadaran sastra jendra dibangun atas 2 macam kesadaran yakni; kesadaran menempatkan di alam mikro dan di alam makro. Yang membuat bersuara adalah makro memanggil mikro dengan getaran segesti yang sudang matang, namanya sendiri sendiri dipanggil. Seolah2 badanya adalah benda mati yang disugesti menjadi benda lain, seperti besi, baja dan lain-lain.
Perwujudan makro menjadi mikro adlaah dengan mengemulkan (menyelimuti nafas meliputi seluruh tubuh dimana dalam kodisi cipta raga atau scope pemandangan dalam pikiran dan perasaan hanya berkisar pada volume tubuh saja, sebesar tubuh jasmaninya). Hasil dari persatuan mental, rasio dan fisik ini dinamakan juga “triwikram”. Diperwujudan pewayangan, sri kresna dikatakan menjadi raksasa besar, atau tokoh2 lainya yang mempunyai aji “triwikrama” seperti arjuna SASTRAbahu”, puntadewa (saudara tertua keluarga pandawa, khusus versi pewayangan).
Bertriwikrama itu mewujudkan satu penambahan enaga fisik manusia, sekaligus kekebalan. Kenapa bisa timbul “tenaga pisik” maha dahsyat dan kekebalan dari seorang perwujudan makro menjadi mikro tadi. Lewat teknik “triwikrama”.
Alam semesta ditafsirkan oleh sastra jendra hayuningrat pangruwaing diyu dibentuk oleh 4 anasir (seperti dikemukakan dalam selecta nomer lalu), masing2 adalah anasir 1. Bumi, 2.api, 3. Angin, 4 air. Semua benda dianggap hidup; karena hidup sendiri memenuhi ruangan yang tak terbatas; ada dimana mana; semua benda yang dianggap hidup tadi hanya dibendakan mana yang aktif dan mana yang pasif. Kriteria aktif dan pasif diukur dari kemampuan memproyeksikan yang besar pada yang kecil; sehingga apa yang disebu sebagai “benda hidup yang aktif hanyalah manusia punya angan-angan dan cita2. Sedang api hidup benda diluar manusia dianggap pasrah.
Sebagai contoh, adalah anasir api yang terdiri dari panas, cahaya, dan warna. Sekarang manakah yang disebut api? Api hidup menimbulkan suatu getaran, cahaya hidup menimbulkan suatu gelombang dan warna hidup melahirkan atau menunjukkan watak. Sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu menyimpulkan, bahwa seluruh alam mikrokosmos dan makrokosmos diliputi oleh suau gearan kuasa yang disebut sebagai kurdaning dumadi (kurda-gerak dinamis dan dumadi-kejadian). Kurdaning dumadi bersifat punya (1) kuasa (2) obah, gerak atau getar, (3) wadah atau materi, (4) sifat gerak yang menjurus atau mempunyai bentuk dan (5) kodrat barang jadi” itu sendiri punya (1) wujud, (2) sifat, (3) cipta, (4) rasa dan (5) hidup (urip).
Sehingga seorang berilmu adalah orang yang bisa mengendalikan atau mengarahkan kurdaning dumadi tersebu t sesuai dengancita2 dan angan2nya, diluar batas kodrati seperti seorang berilmu bisa mengendalikan batas2 dimensi yang kaku, yang ubahnya seekor ular yang bisa memakan tubuhnya sendiri, sehingga ular itu seakan2 nyaplok petite ngalap sakujur awake (ulo=ular; nyaplok= menelan, memakan; petit=ujung ekor’ ngalap= makan; sakujur; keseluruhan; awake=badanya). Pengendalian kurdaning dumadi bisa juga menghilangkan dimensi2 dimana jarak, ruang dan batas waktu yang sudah tidak ada. “Yen ginelar ngebaki jagad, yen kinuku sak mrica binubut” kalau digelar memenuhi alam, kalau dikumpulkan seperi merica dibubut” (yen kalau; ginelar” digelar=digelar’ ngebaki=memenuhi “jagad”=alam (kosmos); kinukut =dikumpulkan; sak= seperti mrica= merica; “binubut” dibubut)
Berriwirakrama seperi dikemukakan sebelumnya pada hakekanya adalah “hangratoni bumi” (merajai anasir bumi) yang diperoleh dengan menggerakkan ali rasa dan tubuh, dimana unsur manusia itu sendiri ada anasir bumi dalam tubuh dipersatukan dengan bumi lewat tapak kaki dan tangan. Hal ini menyebabkan manusia itu punya tenaga dalam maha dahsyat dan kebal terhadap senjata tajam. Sebenarnya kekebalan itu sendiri datang karena adanya suatu lapisan yang tidak kelihatan yang meliputi seluruh tubuh manusia tersebut, hingga barang tajam tersebut sebenarnya tidak pernah sampai menyentuh kulit.
“Hangratoni agni” (merajai api) adalah dengan menggerakkan tali rasa dan kekuatan darah, dimana unsur manusia itu sendiri dan “anasir apinya” dalam tubuh, dipersatukan dengan anasir api dari alam, lewa jantung, sehingga seakan2 seluruh badan beranasir api . hal ini membuat manusia itu tahan panas dan seakan2 kebal terhadap api, sebab dalam keadaan sebenarnya api tidak pernah menyentuh tubuh manusia itu.
“Hangratoni maruto” (merajai angin) adalah mempersatukan anasir angin dalam tubuh manusia dan anasir angin yang dialam dengan jalan mempersatukan angin lewat mulut untuk kemudian dengan bantuan sugesti tangan dipersatukan dipusar dengan menutup “babagan howo nawasanga” (lobang hawa sembilan dalam tubuh manusia, masing2; 2mata; 2 hidung; 2 telinga; mulut, dubur dan kemaluan). “Hangratoni maruta” akan mempuat seseorang bisa berjalan diatas air, menyelam sekira 24jam didalam air, berjalan cepat (ilmu angin). “hangratoni maruta” yang tercipta karena semangat dan peledakan tekad, akan menghilangkan dimensi ruang, waku, jarak sampai kepada gaya grafitasi. Seseorang bisa jalan diatas air, adalah dengan menghilangkan gaya grafitasi (daya tarik bumi). Tapi orang melakukan ini dalah dengan tidak sadar, dan tahu2 saja sudah berada di seberang kali yang diseberangi, misalnya: hangratoni maruto juga punya pecahan variasi berupa ilmu menghilang. Demikianlah seorang manusia bisa berubah wujud jadi kecil sebesar sejengkal. Menurut RM Darudriya Sumodiningrat, seorang manusia bisa memjadi kecil sampai sejengkal, haruslah ada kerelaan darimanusianya sendiri untuk dibikin kecil
“Anasir air (tirta) selalu selalu digunakan dalam ketiganya itu, “Hangratoni bumi”, “Hangratoni agni” dan “Hangratoni maruta” sebab dalam ketiganya itu anasir air dipakai untuk ketenangan kosentrasi, sehingga ak ubah seperti anasir penghantar. Ilmu beladiri sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu yang paling tinggi dan yang paling sulit adalah menghidupkan “mata cipta” yang terleak didahi, persis ditengah2 kedua alis. Pusat kosentrasi dengan memejamkan mata keujung hidung untuk kemudian menggantikan fungsi mata ketengah dahi menjadi suatu “mata cipta”. Mata cipta itu terbentuk adalah dengan mengatur nafas dengan peredaran darah. Tubuh disemedikan, dimana keadaan manusia itu berada seakan2 antara sadar dan mau tidur (dalam hal ini akunya masih menilai, meskipun badan sudah tidur. Seseorang yang sudah bisa menghidupkan mata cipta, akan bisa meramalkan apa yang akan terjadi, mengetahui hari mati dan lain2.
Ilmu beladiri jawa kuno, banyak sekali membuka tabir misteri manusia dan alam semesta. Misalnya, itu adalah pekerjaan yang mudah :seseorang akan bisa melihat hantu apabila penglihatan diatas frekwensi lemah, karena hantu itu frekwensi berwujudnya sangat lemah. Cara melihat hantu, adalah dengan memejamkan mata dengan memejamkan mata keujung hidung, kemudian pada sisi kiri dan kanan, kalau memang ada hantu anda akan bisa melihat hantu :persoalanya, lebar pandangan mata adalah dengan sudut kiri dan kanan frekwensi penglihatan akan melemah (mata sendiri ditujukan ke ujung hidung). Sehingga kalau dikiri dan dikanan memang ada hantu, anda akan melihatnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar