SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT


KELUARGA BESAR
SASTRO JENDRO HAYUNINGRAT
SURAKARTA

Latihan dan pengembangan mediasi digunung Lawu
 
PENALARAN YANG TERKANDUNG DALAM
AKSARA JAWA



Filsafat ke Tuhanan melandasi timbulnya aksara jawa :

            Dalam kebudayaan Jawa, timbulnya aksara (huruf) Jawa bedasarkan suatu filsafat tentang ketuhanan, tentang “Hakekat kebenaran”. Dalam berfilsafat, pada jaman dulu orang jawa telah memperoleh pengertian tentang hakekat kebenaran yang sifatnya abstrak dan universal. Hal ini dicapai dengan jalan olah rasa, analisa dan abstraksi. Dan untuk memahami unsur hakekat atau substansi dari sesuatu barang, orang harus mampu melepaskan semua unsur2 aksidensia yang meliputi pada suatu barang tersebut.
            Bila orang telah menemukan ari substansi dari suau barang akan diperoleh pengertian sesuatu barang yang sifatnya tetap-tidak berubah, dan kebenaranya tidak dibatasi dengan ruang, waktu dan jarak. Sifat2 demikian adalah sifat tuhan (kekal).
            Dan jika pengertian tentang hakekat tadi kemudian merupakan suatu keyakinan maka manifestasinya akan terlihat sebagai pandangan hidup (way of life) dari orang itu sendiri. Dalam filsafat jawa telah pula dimengerti tentang hubungan manusia dengan dengan dunia beserta isinya ini, dengan alam semesta. Manusia mempengaruhi dunia dan demikian pula sebaliknya. Disamping itu didalam diri manusia sendiri terdapat semua unsur pokok yang ada dalam dunia/ alam semesta, maka bedasarkan ini manusia menamakan dirinya “mikro kosmos” sedang alam semesta dinamakan “makro kosmos”
            Dalam “makro kosmos” unsur unsur pokok adalah : Api, angin, air , dan bumi. Dalam “mikro kosmos” unsur-unsur pokok juga sama yaitu:
Api disini merupakan nafsu amarah.
Angin disini merupakan nafsu supiah
Air merupakan nafsu mutmainah sedangkan bumi merupakan nafsu aluamah.
            Timbulnya aksara jawa diawali dengan suatu cerita legenda tentang ajisaka mengalahkan seorang raja yang lalim, pemakan manusia yang bernama prabu dewata cengkar. Serta menceritakan pula keempat pembantu ajisaka yang bernama dora, sembada, prayoga, dan duduga.
            Menurut cerita ajisaka perang melawan dewata cengkar itu tidak llain hanya memberi sanepan (gambaran) bahwa bahwa semua kelaliman akan kalah oleh kebenaran (sura jaya diningrat lebur dening pangastuti api apa sebetulnya yang dimagsut dibalik ceria serta nama nama didalam cerita itu?. Sekarang kalau kita tilik nama ajisaka :aji-berarti berharga, saka- berarti tiang (penyangga) dari sesuatu yang berharga, -ialah hidupnya. Berarti pula orang yang telah “menemukan” pengertian “hakekat kebenaran” secara tidak langsung berarti pula orang yang menemukan pribadinya atau orang yang telah menemukan “aku’nya.
            Jelaslah disini yang dimagsud dengan ajisaka adalah “aku” sedang arti dari nama-nama para pembantu ajisaka adalah:
1.      Dora-berarti bohong.
2.      Sembada- berarti percaya pada diri sendiri.
3.      Duduga – berarti menggunakan kira2 (nalar)
4.      Prayoga – berarti cocok atau baik.
Maka dalam legenda diceritakan dora dan sembada tewas (sifat kedua2nya kurang baik) dan duduga dengan Prayoga tetap hidup (kedua sifa ini mengarah pada kebaikan).
            Jadi Ajisaka serta para pembantunya menggambarkan “sedulur papat kalima pancer (saudara empat dan kalima pancer ) yang ada pada diri manusia itu sendiri. Disini dijelaskan bahwa “aku” menguasai serta mengatur keempat nafsu diatas (nafsu: amarah, supiah, mutmainah, aluamah).
Bedasarkan ini maka timbulah aksara jawa:

HA      NA      CA     RA      KA                  DA      TA       SA       WA     LA

PA       DA      JA        YA      NYA               MA      GA      BA      HA      NGA

Serta dengan “sandanganya” (pelengkap) yaitu:
HA      -           dalam aksara jawa dinamakan nglegena (polos)
HI        -           dalam aksara jawa dinamakan wulu
HU      -           dalam aksara jawa dinamakan suku
HO      -           dalam aksara jawa dinamakan taling tarung.
HE       -           dalam aksara jawa dinamakan pepet
HANG -          dalam aksara jawa dinamakan cecak
HAR   -           dalam aksara jawa dinamakan layar
HE’     -           dalam aksara jawa dinamakan taling
HAH   -           dalam aksara jawa dinamakan wignyan.

            Huruf jawa ini dipakai untuk media serta pengungkapan suatu- ajaran bagaimana manusia menjalin hubungan dengan tuhan. Dan juga menyangkut lebih luasnya tentang kehidupan ini, tentang “Hakekat kebenaran”. Karena pada umumnya manusia menilai suatu kebenaran hanyalah terbatas hanya kebenaran duniawi, dimana manusia sendirilah yang mengadili serta menghakimi bedasarkan pengalaman yang menyangkut pada manusia itu sendiri.
            “Hakekat kebenaran” ini tidak dibatasi ruang ,waktu serta jarak dan kebenaranya tidak berubah, atau dengan kata lain langgeng (kekal). Demikian sekelumit tentang aksara jawa dan untuk lebih jelasnya akan kami terangkan/ ungkapkan sedikit arti tiap huruf dalam aksara Jawa tersebut:

Arti Huruf-Huruf Jawa
HA      -           Huripku cahyaning gusti Allah
                        (Hidupku cahayanya Gusti Allah/ Tuhan)
            Dalam gusti allah/ tuhan adalah langgeng (kekal). Kekal disini berarti “padhang tanpa winatesan, tanpa ana sumbering sumbu, anane mung kepenak” (Terang tak terbatas, tiada awal, adanya hanya rasa enak). Kita hidup ini adalah pancaran dari sinar langgeng (Nur). Sinar hidup ini tercermin pada setiap makhluk hidup, merupakan cahaya “cahaya hidup” (guwaya). Cahaya hidup ini akan terlihat bila kita memperbandingkan antara orang hidup dan orang yang telah meninggal.

NA      -           Nur hurip cahya wewayangan
(Nur hidup merupakan cahaya bayangan)
Disini cahaya tuhan (Nur) yang ada pada manusia adalah bayangan dari cahaya langgeng. Jelaslah bahwa tuhan adalah sumber hidup dan menghidupi dan berarti pula Tuhan ada dalam ciptaanya, tetapi tidaklah berarti bahwa tuhan adalah ciptaanya itu. Dapat kita ambil contoh, umpama kita menaruh sejumlah cermin ditanah lapang, kita akan  melihat beberapa Matahari dalam cermin sebanyak cermin yang kita taruh. Setelah kita meihat keatas ternyata matahari yang asli hanyalah satu, demikianlah pula yang terjadi pada manusia ini.

CA      -           Cipta rasa karsa kuwasa
( Cipa, rasa dan kehendak yang kuwasa)
Seluruh alam semesa ini terjadi karena ciptaanya serta atas kehendaknya. Tuhan menciptakan segalanya karena kecintaan- (Eros) dan atas permintaan alam itu sendiri (proses evolusi) berarti apa yang ada dialam semesa ini ada dalam kekuasaanya.

RA      -           Rasa kuwasa kang tanpa karsa
( Rasa kuwasa yang tidak mempunyai kemauan)
Semua rasa yang ada didunia ini seperti rasa asin, rasa pedas, rasa sakit, rasa senang, rasa susah, jengkel dan sebagainya menjadi satu, menjadi “R a s a  K u a s a”. seseorang tidak akan bisa menggambarkan atau mewujudkan atau mewujudkan tentang rasa, sedang menggambarkan rasa asin atau sakit saja orang tidak bisa, apalagi menggambarkan  “Rasa Kuwasa”. “Rasa biasanya hanya dirasakan demikian tentang rasa kuwasa (Tuhan) hanya bisa dirasakan. Seperti telah disinggung diatas bahwa tuhan menciptakan seluruh alam semesta ini atas permintaan dari alam itu sendiri, dan tuhan juga tidak mengharapkan hasil dari apa yang diciptakanya (tanpa pamrih).

KA      -           Karsa kuasa tetungguing pangereh.
(kehendak yang kuwasa merupakan sumber dari pengatur)
Semua apa yang terjadi dialam semesta ini, berjalanya matahari, bintang-bintang, tumbuhnya pepohonan  mekarnya bunga-bunga dan sebagainya, jelas semua ada yang mengatur, pengatur dari sumua itu adalah tuhan (Rasa kuwasa)


DA      -           Dumadi tanpa kinardi (terjadinya tanpa ada yang membuat )
Seluruh isi alam semesta ini terjadi karena suatu proses. Adanya sesuatu benda karena proses itu sendiri hingga mencapai adanya suatu kodrat. Apabila kita melihat pada diri kita tentu kita sadari adanya nyawa, semua orang tahu bahwa semua makhluk mempunyai nyawa. Tetapi tentang hal nyawa kalau berujud, yang bagaimana ujudnya? Kalau bertempat tinggal,dmn tinggalnya? Kalau mempunyai aroma, yang bagaimana aromanya? Kalau lewat (masuknya lewat mana?).
Nyawa tidak usah mencari, dan ada dengan sendirinya nyawaw tadi ada atas kehendak yang maha kuasa

TA       -           Tetep jumenenging dat kang tanpa niat
(tetap terjadinya dat yang tak mempunyai niat)
Bila seseorang dalam mencari “Hakekat kebenaran” sesuatu benda telah melepaskan semua aksidensia yang menyelimuti benda tersebut sudah tidak merasa apakah dia itu lelaki atau perempuan, kaya atau miskin, jelek atau cakap, yang ada hanya hidup. Dan dalam keadaan begitu seseorang tadi tidak mempunyai niat apapun, bahkan pikiranya tidak akan bekerja (makarti). Pikiran adalah sumber dari semua kemauan/ niat, dalam keadaan beginilah (dalam keadaan semedi) orang tetap merasakan hidup (Dat) yang tidak mempunyai niat apapun.

SA       -           Sifat hana tanpa wiwit. (sifat ada tanpa awal)
Sifat tuhan ada, tidak tahu kapan mulainya. Manusia untuk meresonansikan diri dengan tuhan haruslah mengerti sifat2 tuhan serta berusaha menirukan sifat2nya. Sebetulnya kitapun tidak tahu persis kapan kita mulai hidup mulai kita ini mempunyai kepribadian sendiri.

WA     -           Wujud hana tan kena kinira
(wujud ada tapi tak bisa dikira-kirakan)
Dalam sarana untuk mencari “Pribadi” walaupun “aku” ujudnya sama dengan kia sendiri, tapi perujudan ini tak bisa kita kira kirakan. Itulah sebabnya seseorang akan sulit bisa membayangkan atau mencipakan wajah sendiri.
Dalam dunia ini orang tidak akan bisa membayangkan atau mengkira-kirakan perujudan yang terakhir dari evolusi sesuatu barang atau makhluk. Sebagai contoh : seseorang tidak akan bisa membayangkan wajah atau wujud dari dirinya sendiri.

LA       -           Lali –eling wewatesane.
(batasanya anara lupa dan ingat)
“ Gaib” disini diterangkan ada dalam keadaan anara lali (lupa) dan eling (ingat) . yang dimagsut lupa disini adalah tidur, sebagai conoh upama kita idur jam 1.00 malam. Apakah benar kia idur jam 1.00, tapi awal dari tidurnya kita tidak tahu pasti jadi mulai kita tidur, saat kita lupa. Dan yang dimagsut ingat disini adalah waktu kita dalam keadaan melek. Sering seseorang dalam keadaan demikian (seengah tidur dan setengah melek) orang tersebut menerima pralambang (wangsit, petunjuk) akan tetapi banyak orang yang tidak memperhatikan hal tersebut. Baru setelah ada kejadian orang tersebut menyadari adanya perlambang tadi. Disini disarankan agar orang yang berniat untuk mempelajari hal hal gaib, supaya mencari mencari- saat kita mulai tidur. Sera mempertahankan keadaan yang demikian itu. Ini adalah sebagian dari cara-cara untuk memudahkan dalam mempelajari hal tersebut diatas.

PA       -           Papan kang tanpa keblat
(suatu tempat yang tak mempunyai arah)
Didalam mempelajari hal gaib kita akhirnya akan menemukan tempat (suasana, keadaan) yang kita tidak tahu mana arah utara dan selatan, mana arah barat dan arah timur, mana atas dan mana bawah. Yang ada hanya suatu tempat yang tak erbatas (kosong, awang-awung). Kebla atau arah sebetulnya diciptakan (diadakan) oleh manusia sendiri untuk mempermudah komunikasi antar manusia didunia ini. Pada kenyataanya keblat itu tidak ada.
Sebagai contoh begini :kita menunjuk ke arah timur, seandainya begini : kita menunjuk kearah timur, seandainya tangan kita ini memanjang terus, niscaya akan sampai pada tengkuk kita sendiri. Atau seseorang berjalan kearah bara jika orang itu jalan terus, orang itu pada akhirnya akan sampai  pada tempat semula. Hal ini terjadi karena dunia ini bulat, lalu sekarang timbul pertanyaan : arah manakah timur, barat, utara, atau selatan itu?. Kami kira para kadang telah mengetahui jawabanya sendiri.

DHA   -           Dhuwur wekasane, cendek wiwite.
                        (akhirnya tinggi, berawal dari rendah)
Bila seseorang telah mencapai pada tingkat seperti yang diterangkan diatas dalam mencari “Hakekat kebenaran” maka orang tersebut kesadaranya akan lebih tinggi (dewasa) dan dalam berbuat pun orang tersebu akan lebih berhati hati serta cenderung kearah perbuatan baik (Mangayu Hayuning Bawana) jelaslah unuk mencapai kesadaran yang tinggi, mesti diawali dari yang rendah dulu. Seseorang akan naik setingkat pada kesadaranya, kedewasaanya, atau cara berfikirnya apa bila ora itu mengalami suatu benuran (persoalan yang menyangku pada orang itu sendiri)

JA        -           Jumbuhing kawula-ghusti
(Menyatunya manusia dengan tuhan)
Disini berarti seseorang telah “menemukan” hakekat kebenaran. Diatas telah diterangkan bahwa hakekat kebenaran itu bersifat tetap, tidak berubah dan tidak dibatasi dengan ruang waktu, waktu dan jarak (kekal) dan didalam kekal adalah tuhan. Berarti menemukan hakekat kebenaran sama halnya menemukan tuhan, berarti pula telah bisa menyatu denganya.

YA      -           Yen rumangsa tanpa karsa
(Bila merasa tidak mempunyai kemauan)
Kembali setelah seseorang menemukan dan bersatu dengan tuhan, berarti orang tersebut dalam keadaan demikian tidak mempunyai kemauan apapun. Karena kemauan ada pada pikiran (ratio), sedangkan dalam tuhan rasio disini tidak berlaku. Kenyaaan pula bahwa tuhan tidak bisa dicapai dengan ratio, seperti apa yang tertulis pada suatu ayat yang tafsiranya antara lain berbunyi : “Tuhan lebih dekat dari urat nadimu, tetapi kamu tidak perlu tahu”.

NYA   -           Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diwuruki.
            (Nyata tanpa maa mengerti tanpa ada yang mengajari).
Masih berkaitan dengan hal diatas, dalam mencapai hakekat kebenaran atau kesempurnaan, seseorang akan tahu dengan sendirinya dan tidak tergantung/ diberi pelajaran oleh orang lain. Hal ini bersifat universil karena semua bersumber hanya dari satu yaitu dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

MA      -           Mati bisa bali.
(Mati bisa kembali)
Yang dimagsut mati disini adalah seseorang yang mematikan atau melepaskan semua aksidensia dari sesuatu yang kita cari. Sedang jika manusia mengembalikan semua aksidensia dari sesuatu tadi, maka seseorang akan kembali seperti umumnya manusia jelasnya kita sebagai manusia, tidaklah mungkin mempertahankan dalam keadaan yang demikian (dalam menyatu dengan tuhan) selamanya, sebelum manusia itu meninggal. Maka biar bagaimanapun manusia toh kenyataanya masih mempunyai kemauan, masih membutuhkan sarana untuk kelangsungan hidupnya.

GA      -           Guru sejati sing muruki
(Guru sejati yang mengajari)
Hal hal tersebut diatas (bisa tercapai) bukan karena orang lain, akan tetapi sebenarnya dari kita sendiri yang dimaksutkan “guru sejati” disini adalah aku (ego) aku dan manusia selalu berkaitan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Kalau aku dengan manusianya terpisah, berarti manusia itu meninggal dunia. Aku  yang memerintah manusia dan manusianya sendiri yang menjalani. Sebagai contoh  umpama kita disuruh makan oleh orang lain, belum tentu kita mau makan, tapi bila si aku yang menyuruh, mau tidak mau pasti kita makan. Dalam hal ini perintah tadi merupakan rassa lapar. Dan dalam hal gaib fungsi aku perting sekali dan juga merupakan “Guru” dalam mencari serta mancapai hakekat kebenaran atau untuk menemukan serta menyatu dengan tuhan.

BA      -           Bayu sejati handalani
                        (Bayu sejati sebagai jalan)
Kalau kita menyimak bayi yang baru lahir untuk mengawali hidupnya tentu dia menangis, selama bayi menangis dan tali pusar belum dipotong masih merupakan prabot (bagian) dari siibu. Pada tangisan pertama seorang bayi, bayi itu mengeluarkan udara lebih dulu, tanpa menghisap udara luar. Udara yang keluar dari tangisan yang pertama inilah yang dinamakan “bayu sejati” bayu sejati ini selalu terhisap dan dikeluarkan bersamaan dengan udara yang dipakai untuk bernafas bagi sibayi tersebut. Bayu sejati ini merupakan jalan untuk menuju kesempurnaan.

THA    -           T h u k u l saka niat
                        (Timbul dari niat)
Untuk mencapai “Hakekat” timbul karena niat/ kemauan dari manusianya sendiri, dari kesadaranya sendiri.

NGA   -           Ngracut busananing manungsa
(Melepaskan busana/ pelengkap manusia)
Yang dimagsut busana disini bukanlah pakaian atau perhiasan melainkan “pelengkap rasa” yang terbawa sejak lahir dari manusia itu sendiri. Bila kita melihat orang yang sedang lelaku (mau meninggal atau meregreng nyawa) akan terlihat teraturnya jalanya nafas dan seakan membaca “dikiran”. Sebetulnya dalam keadaan demikian ini orang tersebut baru “melepaskan sandanganya”, yang suaranya akan terdengar separti urutan pelengkap pada aksara jawa, mulai dari H a sampai H a h (dari nglegenya sampai wignyan) saat itulah orang meninggal itu sebetulnya sedang melepaskan semua aksidensinya. Bila orang yang mau meninggal itu telah mencapai kesadaran yang tinggi, maka orang itu akan menuju ke kesempurnaan yang kekal, artinya bersatu dengan tuhan selamamnya. Dan bila yang mau meninggal itu waktu melepaskan aksidensia tadi karena terpaksa aau tanpa kesadaranya maka orang itu akan “kurang sempurna” (gentayangan/ nglambrang). Jadi pocongan nih ye….xiixiixiixix,,



Arti dari sandangan (pelengkap) pada aksara J a w a :

Ha       -           Artinyua nglegena (polos/ budil/ wuda)
Jabang bayi yang baru lahir dan belum mengangis dikatakan nglegena (polos), artinya walaupun telah berujud manusia tetapi belum mempunya “pribadi sendiri” masih merupakan bagian dari si ibu.


Hi        -           Jumeneng kalawan pribadi (mempunyai kepribadian sendiri)
Setelah tali pusat atau pusar dipotong serta sibayi menangis, barulah sibayi tadi mulai hidup dengan pribadi sendiri, sudah tidka merupakan bagian dari si ibu lagi, walaupun untuk kelangsungan hidupnya masih tergantung dari bantuan serta perawatan dari pribadi yang lain, ialah siibu tercinta.

Hu       -           Artinya nggugu. (menurut)
Sibayi mulai ketitipan “ketitipan” perasaan menurut, diberi air susu diberi makanan dan sebagainya hanya menurut saja dalam tehap begini, sibayi tadi belum mengerti jujuan dan kegunaan dari semua yang diberikan padanya, hal ini biasanya sampai umur sekitar 3 (tiga) bulan.

Ho       -           Artinya mempunyai perasaan gumun (heran).
Dalam tahap ini sibayi telah bertambah “titipan” pelengkap rasa heran, dan timbulah rasa ingin tau. Biasanya barang2 apapun yang dipegang terus dimasukkan kedalam mulutnya (ke-mrusuh) anak sekecil ini belum bisa membedakan antara makanan dengan mainan. Apalagi tujuan dari hidup ini, sedang kegunaan makananpun dia belum mengerti. Umumnya dengan bertambahnya pengertian (perasaan), sibayi dibarengi  dengan sakit panas ataupun berak-berak (diare). Orang2 tua dulu menamakan “baru ngenteng-enthengi”.

He       -           Artinya telah bertambah perasaan mengerti.
Mengerti disini artinya masih dalam batas-batas tertentu. Sibayi baru membedakan antara makanan dan minuman, dbilangi sedikit-sedikit telah mengerti dan menurut.

Hang   -           Artinya telah bertambah perasaan mudeng (jelas).
Dalam tahap ini sibayi (anak) telah mengerti dengan jelas. Bila seorang anak memegang bara api, dia lain kali melihat bara api dia tidak akan mengulang lagi.

Har      -           Artinya sudah bertambah perasaan samar (was-was)
Dalam tahap ini si anak telah mempunyai rasa takut, rasa was was semua titipan sandangan (pelengkap rasa) ini akan terbawa sampai dewasa, bahkan sampai manusia itu meninggal. Semua perasaan (sandangan) ini bersifa universal, semua orang pasi memiliki dan tak bisa dipungkiri.

He’      -           Artinya orang yang telah mengerti tujuanya.
Dalam tahap ini berarti sang anak telah memikirkan tentang hidup ini serta tujuan dari hidupnya. Berarti pula orang tersebut telah “Dewasa” serta telah pula “berkesadaran tinggi” telah mengerti entang kehidupan ini.

Hah     -           Arinya telah kembali ke “kelanggengan” (kekal)
Artinya manusia asalnya tidak ada kembali ke tidak ada lagi. Manusia asalnya dari tuhan kembali ketuhan lagi, artinya seseorang telah bersatu dengan tuhan untuk selama-lamanya, telah mencapai “kesempurnaan kekal”.

Dan dalam aksara jawa masih ada pelengkap lagi yaitu “pangkon”, dimana setiap huruf yang dipangku  jadi huruf mati. Umpama kata : m a n g a n, menurut aksara Jawa huruf na di pangku. Ini menurut tata lahirnya. Dalam arti yang lebih dalam lagi, maksutnya setiap s a n d a n g a n yang telah “dipangku” tidak bisa kembali lagi. Proses begini kembali kalau kita melihat pada orang yang sedang “lelaku”/ mau meninggal seperti yang telah disinggung diatas. Demikianlah salah satu dari beberapa ajaran yang ada sejak jaman nenek moyang kita.
Kita sebagai bangsa yang kehidupanya selalu dilandasi oleh suasana batin yang religius, maka kita tidak akan lupa bahwa kebenaran mutlak adalah kebenaran yang ada pada tuhan YME. Namun sebagai ciptaanya manusia dianugrahi akal-budi untuk berbuat dan berfikir dlm usaha mencari “ k e b e n a r a n  S e j a t i”.
Dalam filsafat tentang ketuhanan ini perlu kita kembangkan argumentasinya. Dan jelas akan timbul kontra- argumentasi, tetapi bukan untuk saling bertentangan, melainkan justru mencari dan menemukan nilai2 “Hakekat Kebenaran”, untuk menghayati kebesaran tuhan, yang sesuai dengan pancasila yang pertama dari dasar negara kita yaitu : P A N C A S I L A.

NITIKAN, JOGJAKARTA
18 februari 2011
di salin sesuai naskah aslinya
oleh
ELANK CAKTI